Hiperpigmentasi Pasca-Inflamasi (Post-Inflammatory Hyperpigmentation, PIH): Masalah Kulit yang Sulit Dihilangkan

Inflamasi dapat terjadi di seluruh bagian tubuh, termasuk kulit. Ciri yang kelihatan dari inflamasi—bengkak dan berwarna merah—muncul sebagai bentuk pertahanan alamiah tubuh terhadapmikroba, toksin, penyakit, dsb. Ketika tubuh mengenali adanya serangan, sel-sel darah putih,antibody, dan berbagai mediator inflamasi lainnya, termasuk sitokin dan interferon, membanjiriarea yang terkena serangan. Melanosit, sel yang memproduksi pigmen kulit (disebut melanin),bisa jadi juga diaktifkan. Selain berwarna merah dan bengkak, gejala lain inflamasi mencakuprasa panas, gatal, nyeri, atau kulit menjadi lunak.

Ketika tubuh menetapkan bahwa ancaman tersebut sudah berlalu, respons inflamasi alami pun akan berhenti sehingga bengkak dan warna merah pun mereda. Warna merah itu biasanya memudar secara bertahap. Akan tetapi, dalam beberapa kejadian, alih-alih pulih kembali ke warna kulit alami, warna merah itu berubah menjadi noktah cokelat gelap, ungu, gosong, atau mala abu-abu. Noktah pada kulit ini dapat bertahan lama dan dikenal sebagai hiperpigmentasi pasca-inflamasi (PIH).

PIH dapat terjadi pada orang dengan corak warna kulit apa saja, meskipun mereka yang warna kulitnya lebih gelap dapat mengalami secara lebih cepat atau warna noktahnya lebih gelap


PIH Secara Singkat

Hiperpigmentasi pasca-inflamasi adalah berubahnya warna kulit menjadi lebih gelap yang terus bertahan setelah kulit mengalami inflamasi. Noktah atau bercak rata berwarna ungu, cokelat, atau gosong—kadang-kadang disertai warna biru atau abu-abu—muncul pada permukaan kulit.

Apakah yang Menyebabkan Hiperpigmentasi Pasca-Inflamasi?

Kulit adalah organ tubuh yang amat kompleks dan memiliki sekian banyak fungsi penting, antaralain melindungi tubuh dari penyakit, infeksi, dan cedera. Sel imunologis terdapat di dalam kulit, siap untuk mengenali ancaman terhadap tubuh. Ketika suatu ancaman terdeteksi, sel ini akan merekrut sel-sel yang serupa ke area tersebut untuk membangun pertahanan. Terjadilah “aliran inflamasi” ketika area tersebut dibanjiri oleh sel yang berupaya melindungi kulit. Bengkak dan warna merah mungkin muncul sebagai tanda berlangsungnya proses ini, disertai dengan rasa gatal dan nyeri.


Beberapa kemungkinan penyebab inflamasi kulit adalah:

  • Luka, bisa karena kulit teriris, tergores, atau terbakar
  • Gigitan serangga
  • Iritasi dan alergi (misalnya karena tumbuhan beracun, terpapar nikel, dsb.)
  • Kondisi kulit terinflamasi, seperti jerawat, eksem, psoriasis, lichen planus, dan Pseudo folliculitis barbae (tergores pisau cukur)
  • Infeksi kulit
  • Penyakit yang muncul pada kulit, seperti cacar air.

Menggaruk atau memencet-mencet kulit dapat meningkatkan inflamasi, dan juga berisiko terjadi hiperpigmentasi. Memencet jerawat dapat memperlambat proses penyembuhan dan meningkatkan inflamasi local.


pakah PIH Itu Permanen?

1. PIH itu tidak permanen dan dapat menghilang bahkan jika tidak diobati. Namun, prosespembersihan PIH ini dapat berlangsung berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, pada orang-orang tertentu.

2. Karena itu, lebih baik jika kita mencegah atau meminimalkan PIH sejak awal. Beberapa strategiyang bermanfaat mencakup one layer (mixed), is more difficult to deal with.

3. Membatasi paparan sinar matahari. Tudungilah kulit atau carilah tempat teduh sedapat mungkin, dan gunakan sunscreen dengan kadar SPF tinggi.

4. Hindari menggaruk atau memencet-mencet kulit untuk mengeluarkan lesi (jerawat).


PIH – Fast Fact

  • Menurut penelitian di tujuh negara Asia dan diterbitkan di Journal of Dermatology, sebanyak58% orang yang berobat untuk mengatasi jerawat mengalami PIH. Kondisi ini telah berlangsungselama satu tahun atau lebih pada orang-orang itu
  • Tahukah Anda?
  • PIH terjadi baik pada laki-laki maupun perempuan, tetapi perempuan lebih berminat untukmengobati kondisi ini daripada laki-laki.